Hukum Menikahi Wanita Hamil karena Zina: Pandangan Ulama dan Status Anak

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 24 Februari 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena Zina dan Dampaknya

Pergaulan bebas di kalangan muda-mudi menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan. Hubungan di luar pernikahan yang berujung pada kehamilan seringkali menimbulkan persoalan baru: bolehkah wanita yang sedang hamil akibat zina dinikahi?

Dalam ajaran Islam, zina termasuk dosa besar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 32 agar kaum mukminin tidak mendekati zina karena ia merupakan perbuatan keji dan jalan yang buruk. Dalam Surah Al-Furqan ayat 68, zina juga disebut sebagai dosa yang mendatangkan siksa.

Rasulullah SAW pun menegaskan beratnya dosa zina. Dalam sebuah hadits, beliau menyebut zina sebagai salah satu dosa besar setelah syirik dan membunuh. Bahkan disebutkan bahwa saat seseorang berzina, iman seakan terlepas darinya hingga ia berhenti dari perbuatan tersebut.

Besarnya bahaya zina inilah yang membuat syariat Islam menutup berbagai pintu yang dapat mengantarkan kepadanya.

Perbedaan Pendapat Ulama

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menikahi wanita yang telah berzina, terlebih dalam keadaan hamil.

Sebagian ulama membolehkan pernikahan tersebut dengan syarat tertentu. Namun sebagian lain melarangnya. Di antara ulama yang melarang adalah Imam Ahmad, dengan merujuk pada firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 3 yang menjelaskan bahwa pezina tidak menikah kecuali dengan pezina atau musyrik, dan hal itu diharamkan atas orang-orang mukmin.

Baca Juga :  Polisi Ungkap Kebohongan di Balik Insiden Tabrakan Siswa SD Kalibaru

Syarat Menikahi Wanita yang Pernah Berzina

Menurut pendapat yang membolehkan, terdapat dua syarat utama:

Taubat yang sungguh-sungguh

Wanita tersebut harus benar-benar bertaubat kepada Allah SWT, menyesali perbuatannya, dan bertekad tidak mengulanginya.

Istibra’ (pembersihan rahim)

Harus dipastikan rahimnya kosong. Jika tidak hamil, maka menunggu satu kali haid. Jika dalam keadaan hamil, maka harus menunggu hingga melahirkan.

Dalil mengenai larangan menggauli wanita hamil hingga melahirkan disebutkan dalam hadits Nabi SAW yang melarang menyetubuhi wanita hamil sampai ia melahirkan.

Dengan demikian, jika wanita tersebut masih dalam kondisi hamil akibat zina, maka menurut pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama Hanabilah dan Malikiyah, pernikahan tidak sah hingga ia melahirkan.

Apabila pernikahan tetap dilangsungkan saat hamil dan kedua pihak mengetahui keharamannya, maka akad tersebut tidak sah. Jika terjadi hubungan suami-istri, maka hal itu dihukumi zina dan wajib bertaubat serta mengulang akad setelah syarat terpenuhi.

Status Anak Hasil Zina

Dalam persoalan nasab, mayoritas ulama berpendapat bahwa anak hasil zina tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya, meskipun kemudian laki-laki itu menikahinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Anak itu milik pemilik ranjang, dan bagi pezina adalah kerugian.”

Baca Juga :  UMP 2026 Resmi Berlaku, Cek Besaran Upah Minimum di 36 Provinsi

Maksudnya, anak dinasabkan kepada suami yang sah (pemilik firasy). Karena dalam kasus zina tidak ada pernikahan yang sah saat pembuahan terjadi, maka anak dinasabkan kepada ibunya.

Konsekuensinya:

Anak tidak memiliki hubungan nasab dengan laki-laki tersebut.

Tidak saling mewarisi.

Jika anak perempuan hendak menikah, walinya adalah wali hakim, bukan laki-laki tersebut.

Namun, terdapat keterangan dari Ibnu Taimiyah yang menjelaskan bahwa jika seorang laki-laki menggauli wanita dengan keyakinan bahwa akadnya sah (karena ketidaktahuan atau mengikuti pendapat ulama yang membolehkan), maka anak yang lahir dinasabkan kepadanya.

Kesimpulan

Menikahi wanita yang hamil akibat zina tidak dibenarkan hingga terpenuhi dua syarat: taubat yang tulus dan istibra’. Jika masih dalam keadaan hamil, maka harus menunggu hingga melahirkan.

Anak hasil zina pada dasarnya dinasabkan kepada ibunya, bukan kepada laki-laki yang menzinainya, kecuali dalam kondisi tertentu sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama.

Zina bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi membawa dampak panjang terhadap keabsahan pernikahan dan nasab keturunan. Karena itu, Islam dengan tegas melarang segala jalan yang mengarah kepadanya.

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk menjaga diri, keluarga, dan generasi dari perbuatan yang merusak kehormatan serta nasab.

 

Berita Terkait

Kasus Viral pengeroyokan dan pengerusakan rumahnya Konten Kreator Anisa Desak Polres Kerinci Tetapkan Tersangka
Video Pemeriksaan Jadi Sorotan dalam Sidang Dugaan Asusila Anak di PN Sungai Penuh
Rapat Pembina Yayasan Nurul Qur’an Kerinci Putuskan Berhentikan Tiga Pengurus, Kuasa Hukum Sebut Sesuai AD/ART
Bareskrim Bongkar Markas Judi Online Internasional di Jakarta Barat, 287 WNA Jadi Tersangka
Kejagung Buka Peluang Periksa Kepala BGN Nanik S Deyang dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG
Cara Cek PIP 2026 Sudah Cair atau Belum, Begini Langkah Mengecek Dana Bantuan Pendidikan Kemendikdasmen
Kemdiktisaintek Buka Beasiswa Pra-Doktoral 2026 untuk Dosen, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Polres Kerinci Ungkap Praktik Pelangsiran Pertalite di Sungai Penuh, Satu Pelaku Diamankan

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:17 WIB

Kasus Viral pengeroyokan dan pengerusakan rumahnya Konten Kreator Anisa Desak Polres Kerinci Tetapkan Tersangka

Senin, 6 Juli 2026 - 19:00 WIB

Video Pemeriksaan Jadi Sorotan dalam Sidang Dugaan Asusila Anak di PN Sungai Penuh

Sabtu, 4 Juli 2026 - 16:33 WIB

Rapat Pembina Yayasan Nurul Qur’an Kerinci Putuskan Berhentikan Tiga Pengurus, Kuasa Hukum Sebut Sesuai AD/ART

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bareskrim Bongkar Markas Judi Online Internasional di Jakarta Barat, 287 WNA Jadi Tersangka

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:00 WIB

Kejagung Buka Peluang Periksa Kepala BGN Nanik S Deyang dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB