Jakarta, Pribhumi.com – Penemuan fosil baru Homo habilis kembali memicu perdebatan besar di dunia paleoantropologi. Spesies manusia purba yang selama puluhan tahun dianggap bagian dari genus Homo kini mulai dipertanyakan statusnya setelah ilmuwan menemukan anatomi tubuh yang lebih mirip kera dibanding manusia modern.
Homo habilis dikenal sebagai salah satu spesies manusia paling awal yang hidup sekitar 2,4 juta hingga 1,65 juta tahun lalu di Afrika. Selama ini, informasi mengenai spesies tersebut sangat terbatas karena hanya ditemukan beberapa fosil kerangka yang tidak lengkap.
Namun pada awal 2026, para peneliti berhasil mendeskripsikan kerangka Homo habilis yang jauh lebih utuh dibanding penemuan sebelumnya. Fosil berusia sekitar 2 juta tahun itu memberikan gambaran baru tentang bentuk tubuh spesies tersebut, terutama bagian lengannya yang ternyata panjang menyerupai kera.
Temuan tersebut membuat sejumlah ilmuwan mempertanyakan apakah Homo habilis benar-benar layak dimasukkan ke dalam genus Homo, kelompok yang juga mencakup manusia modern atau Homo sapiens.
Ahli paleoantropologi dari George Washington University, Bernard Wood, menyebut selama ini definisi genus Homo terus diperluas seiring bertambahnya penemuan fosil baru. Menurutnya, ada kemungkinan ilmuwan telah memasukkan terlalu banyak spesies ke dalam kelompok manusia.
Genus Homo sendiri diyakini muncul setelah garis keturunan nenek moyang manusia terpisah dari simpanse lebih dari 5 juta tahun lalu. Namun bentuk awal spesies setelah perpisahan itu ternyata masih sangat mirip kera.
Salah satu spesies terkenal dari periode tersebut adalah Australopithecus afarensis, spesies yang mencakup fosil legendaris Lucy. Makhluk ini memiliki lengan panjang, otak kecil, dan masih banyak memanjat pohon sehingga sebagian besar peneliti tidak menganggapnya sebagai manusia.
Meski begitu, Homo habilis sejak lama dimasukkan ke dalam genus Homo setelah fosil pertamanya ditemukan di Tanzania pada 1960-an. Fragmen tengkorak yang ditemukan kala itu menunjukkan ukuran otak lebih besar dibanding australopithecine, sekitar 45 persen ukuran otak manusia modern.
Atas dasar itulah spesies tersebut diberi nama Homo habilis yang berarti “manusia terampil”.
Akan tetapi, fosil terbaru justru memperlihatkan ciri tubuh yang sangat primitif. Ahli paleoantropologi dari American Museum of Natural History, Ian Tattersall, menilai bentuk lengan Homo habilis lebih dekat dengan australopith dibanding manusia.
Pandangan serupa juga pernah disampaikan Bernard Wood bersama arkeolog Mark Collard. Mereka bahkan mengusulkan agar Homo habilis dipindahkan ke genus Australopithecus dan dinamai ulang menjadi Australopithecus habilis.
Namun tidak semua ilmuwan setuju. Antropolog dari University of Missouri, Carol Ward, berpendapat bentuk lengan yang menyerupai kera belum tentu menjadi bukti spesies tersebut bukan manusia.
Menurutnya, nenek moyang awal manusia kemungkinan masih sering hidup di pepohonan sehingga lengan panjang tetap dibutuhkan. Adaptasi menuju tubuh manusia modern diyakini berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun.
Ward menambahkan, fosil terbaru justru memperkuat dugaan bahwa proses evolusi dari australopith menuju manusia modern tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan perlahan dan kompleks.






