Cara Otak Menyimpan Informasi Baru Tanpa Menghapus Ingatan Lama Terungkap

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Pribhumi com– Bagaimana otak dapat menyimpan pengalaman baru tanpa menghapus atau mengacaukan ingatan yang sudah terbentuk sebelumnya? Pertanyaan tersebut menjadi fokus sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari tiga institusi di Spanyol.

Penelitian tersebut mengungkap peran mekanisme tertentu di hipokampus, bagian otak yang memiliki fungsi penting dalam pembentukan dan pengelolaan memori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak memiliki mekanisme yang dapat menyesuaikan antara mempertahankan informasi lama dan memasukkan pengalaman baru.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal PLOS Biology.

Girus Dentatus Jadi Fokus Penelitian

Peneliti dari Laboratorium Plastisitas Jaringan Neuronal yang berada di bawah Institut Ilmu Saraf, lembaga yang merupakan kolaborasi Dewan Riset Nasional Spanyol (CSIC) dan Universitas Miguel Hernández, memusatkan perhatian pada bagian hipokampus bernama girus dentatus.

Bagian tersebut diketahui memiliki peran dalam proses pembentukan memori baru. Di dalamnya terdapat kelompok neuron yang dapat mengatur aktivitas sel saraf lainnya melalui mekanisme penghambatan.

Para peneliti menduga mekanisme tersebut membantu otak menentukan bagaimana pengalaman baru diproses tanpa secara otomatis mengganggu informasi yang telah tersimpan.

Aktivitas Neuron Diuji pada Tikus

Untuk memahami mekanisme tersebut, para peneliti melakukan eksperimen pada tikus dengan memodifikasi tingkat aktivitas penghambatan neuron di girus dentatus.

Baca Juga :  Hutri Randa resmi mengemban amanah sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kota Sungai Penuh

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika tingkat penghambatan dibuat lebih rendah, tikus menunjukkan kemampuan mengingat kembali yang lebih baik serta menghasilkan ingatan yang lebih terperinci dalam kondisi tertentu.

Encarni Marcos, salah satu penulis utama penelitian sekaligus kepala bidang penelitian di IN-CSIC-UMH, menjelaskan bahwa hubungan antara tingkat penghambatan dan kemampuan mengingat ternyata tidak sederhana.

Dengan kata lain, semakin rendah aktivitas penghambatan bukan berarti selalu menghasilkan kemampuan memori yang lebih baik.

Otak Menyesuaikan dengan Banyaknya Informasi

Penelitian tersebut justru menunjukkan adanya mekanisme yang bersifat dinamis. Ketika informasi yang harus diproses masih terbatas, pengurangan aktivitas penghambatan dapat membantu pembentukan ingatan yang lebih baik.

Namun, ketika jumlah informasi yang harus disimpan meningkat secara signifikan, kondisi tersebut tidak selalu memberikan keuntungan yang sama.

Para peneliti juga menggunakan model komputasi untuk membantu memahami hubungan antara aktivitas neuron dan kapasitas penyimpanan informasi.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa otak tampaknya perlu menyesuaikan mekanisme penghambatan berdasarkan jumlah serta jenis informasi yang sedang diproses.

Ingatan Lama dan Pengalaman Baru Bisa Dikelola Bersamaan

Baca Juga :  5 Sikap Penting untuk Mendewasakan Diri di Tengah Tantangan Hidup

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana otak menghadapi situasi ketika pengalaman baru memiliki kemiripan dengan ingatan yang sudah tersimpan.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengingat kondisi sebuah bangunan sebelum direnovasi, proses renovasi, hingga bentuk akhirnya. Ketiga pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari memori yang berbeda meskipun berkaitan dengan tempat yang sama.

Dalam konteks tersebut, girus dentatus diduga membantu menentukan apakah informasi baru perlu lebih mudah masuk ke sistem memori atau apakah ingatan yang sudah ada perlu dipertahankan agar tidak terlalu mudah berubah akibat rangsangan baru.

Mekanisme Memori Bersifat Fleksibel

Menurut peneliti, kemampuan otak dalam mengelola ingatan bukanlah proses yang bekerja dengan satu tingkat aktivitas yang selalu sama.

Sebaliknya, sistem tersebut dapat menyesuaikan diri berdasarkan konteks dan tuntutan dari aktivitas yang sedang dilakukan.

“Kesimpulan yang kami peroleh dari hasil ini adalah adanya mekanisme yang secara dinamis menyesuaikan cara kerja otak melalui proses penghambatan,” ujar Marcos.

Penelitian ini menambah pemahaman mengenai mekanisme biologis yang memungkinkan otak tetap mempertahankan pengalaman masa lalu sekaligus memberikan ruang bagi informasi baru untuk dipelajari dan disimpan. (Hst)

Berita Terkait

Cara Membuat Urap Sayur yang Lezat, Rahasia Bumbunya Ada pada Kencur
5 Ucapan yang Bisa Menjadi Tanda Komunikasi Tidak Sehat, Waspadai Konteksnya
Bansos Kemensos 2026 Cair Bertahap, Begini Cara Cek Penerima PKH, BPNT hingga PIP Lewat NIK KTP
5 Sikap Pemimpin yang Bisa Menghancurkan Kepercayaan Tim, Jangan Diabaikan
Dokter Bedah Plastik Ingatkan Masyarakat Jangan Tergiur Tren Klinik Korea, Utamakan Keamanan dan Legalitas
DPR RI Buka Seleksi Anggota Badan Supervisi OJK 2026, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya
PLN Beri Kejutan Juni 2026, Voucher Listrik Rp10 Ribu untuk Pengguna PLN Mobile
PLN Bagikan Voucher Listrik Gratis Lewat Program Junivaganza

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 01:36 WIB

Cara Membuat Urap Sayur yang Lezat, Rahasia Bumbunya Ada pada Kencur

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:36 WIB

Cara Otak Menyimpan Informasi Baru Tanpa Menghapus Ingatan Lama Terungkap

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:45 WIB

5 Ucapan yang Bisa Menjadi Tanda Komunikasi Tidak Sehat, Waspadai Konteksnya

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bansos Kemensos 2026 Cair Bertahap, Begini Cara Cek Penerima PKH, BPNT hingga PIP Lewat NIK KTP

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:00 WIB

5 Sikap Pemimpin yang Bisa Menghancurkan Kepercayaan Tim, Jangan Diabaikan

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Cara Membuat Urap Sayur yang Lezat, Rahasia Bumbunya Ada pada Kencur

Senin, 12 Okt 2026 - 01:36 WIB