Jakarta, Pribhumi.com – Diabetes melitus atau yang sering disebut penyakit gula merupakan gangguan kesehatan akibat tingginya kadar glukosa dalam darah. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tidak dapat menggunakan hormon tersebut secara efektif.
Banyak orang menganggap diabetes hanya berkaitan dengan kadar gula darah dan fungsi pankreas. Padahal, apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius yang memengaruhi berbagai organ tubuh.
Paparan gula darah tinggi dalam jangka panjang berpotensi merusak pembuluh darah maupun jaringan saraf. Akibatnya, sejumlah fungsi organ dapat terganggu, bahkan tanpa disertai gejala yang mudah dikenali pada tahap awal.
Berikut tujuh bagian tubuh yang perlu diwaspadai karena berisiko mengalami komplikasi akibat diabetes.
1. Kaki: Saraf Rusak hingga Luka Tidak Terasa
Salah satu komplikasi diabetes yang cukup sering terjadi adalah neuropati perifer, yaitu kerusakan saraf yang umumnya menyerang bagian kaki.
Kondisi ini dapat diawali dengan sensasi kesemutan, kebas, rasa panas seperti terbakar, atau nyeri seperti tertusuk jarum. Jika kerusakan saraf semakin parah, kemampuan kaki untuk merasakan sentuhan dan rasa sakit bisa berkurang.
Akibatnya, penderita mungkin tidak menyadari adanya luka, lecet, atau benda tajam yang melukai telapak kakinya. Luka yang tidak segera ditangani berisiko mengalami infeksi dan sulit sembuh.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memperkirakan sekitar sepertiga hingga setengah penderita diabetes mengalami neuropati perifer.
Selain saraf tepi, diabetes juga dapat memengaruhi saraf otonom yang bertugas mengatur berbagai fungsi otomatis tubuh, seperti pencernaan, denyut jantung, dan kandung kemih.
2. Mata: Penglihatan Bisa Semakin Kabur
Kadar gula darah yang tidak terkendali dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di retina. Kerusakan tersebut dikenal sebagai retinopati diabetik.
Retina merupakan lapisan jaringan di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya. Ketika pembuluh darah di area ini mengalami gangguan, cairan atau darah dapat merembes dan mengganggu kemampuan penglihatan.
Dalam kondisi tertentu, tubuh juga dapat membentuk pembuluh darah baru yang abnormal. Pembuluh darah tersebut justru berisiko menyebabkan komplikasi penglihatan lebih berat.
Tinjauan penelitian dalam jurnal Ophthalmology tahun 2021 memperkirakan sekitar 22,7 persen penderita diabetes mengalami retinopati diabetik dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Karena gangguan ini bisa berkembang tanpa keluhan berarti pada awalnya, pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah penting bagi penderita diabetes.
3. Ginjal: Kerusakan Bisa Terjadi Tanpa Keluhan Awal
Ginjal mempunyai tugas penting untuk menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.
Organ ini memiliki jutaan unit penyaring kecil yang disebut nefron. Sayangnya, kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah halus di dalamnya.
Salah satu petunjuk awal gangguan ginjal adalah ditemukannya albumin, sejenis protein, dalam urine. Pada ginjal yang sehat, protein dalam jumlah besar seharusnya tidak ikut terbuang melalui urine.
Jika kerusakan terus berlanjut, kemampuan ginjal untuk menyaring zat sisa dan kelebihan cairan akan semakin menurun. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan sekitar satu dari tiga orang dewasa dengan diabetes juga mengalami penyakit ginjal kronis.
4. Jantung: Risiko Serangan Jantung dan Stroke Meningkat
Diabetes memiliki hubungan erat dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kadar glukosa yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko terbentuknya plak.
Penumpukan plak lemak dapat membuat pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah menjadi tidak lancar. Apabila penyumbatan terjadi pada pembuluh darah yang memasok jantung, seseorang berisiko mengalami serangan jantung.
Sementara itu, penyumbatan pembuluh darah menuju otak dapat memicu stroke.
Risiko tersebut bisa semakin besar apabila diabetes disertai tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol yang tidak normal.
CDC menyebutkan bahwa orang dewasa dengan diabetes memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar mengalami penyakit jantung atau stroke dibandingkan mereka yang tidak mengidap diabetes.
Selain pembuluh darah, diabetes juga dapat merusak saraf yang mengatur denyut jantung dan tekanan darah. Gangguan ini dikenal sebagai neuropati otonom kardiovaskular.
5. Hati: Penumpukan Lemak Meski Tidak Mengonsumsi Alkohol
Organ hati juga dapat mengalami gangguan akibat diabetes, khususnya pada penderita diabetes tipe 2.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolisme.
Kondisi ini erat hubungannya dengan resistensi insulin. Ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal, proses pengolahan gula dan lemak ikut terganggu.
Dampaknya, lemak dapat menumpuk di dalam sel-sel hati meskipun seseorang tidak memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Penumpukan lemak tersebut sering kali tidak menimbulkan tanda yang jelas pada tahap awal. Namun, pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan dan kerusakan hati yang lebih serius.
Sebuah meta-analisis tahun 2024 dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology menemukan bahwa sekitar 65,33 persen dari lebih 2,2 juta orang dengan diabetes tipe 2 yang diteliti mengalami penyakit hati berlemak.
6. Otak: Berpotensi Memengaruhi Daya Ingat
Dampak diabetes juga dapat menjangkau sistem saraf pusat, termasuk otak.
Sejumlah penelitian menghubungkan diabetes dengan peningkatan risiko penurunan kemampuan kognitif dan demensia. Hubungan ini diduga melibatkan beberapa mekanisme, seperti kerusakan pembuluh darah otak, peradangan, serta perubahan metabolisme akibat resistensi insulin.
Gangguan pembuluh darah dapat mengurangi kelancaran pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan otak untuk bekerja secara optimal.
Risiko tersebut menjadi perhatian khusus pada orang yang mengalami diabetes tipe 2 sejak usia paruh baya.
Komisi Lancet tentang demensia pada 2024 juga memasukkan diabetes sebagai salah satu faktor risiko demensia yang masih dapat dimodifikasi.
Meski begitu, bukan berarti setiap penderita diabetes akan mengalami demensia atau kehilangan daya ingat. Pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah otak.
7. Lambung: Proses Pencernaan Menjadi Lebih Lambat
Gangguan pencernaan juga bisa menjadi komplikasi diabetes, terutama pada orang yang sudah lama mengalami kadar gula darah tinggi.
Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah gastroparesis. Kondisi ini menyebabkan lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk memindahkan makanan menuju usus halus.
Penderita dapat merasakan kenyang lebih cepat meskipun baru makan sedikit. Gejala lainnya meliputi mual, perut terasa penuh, kembung, hingga muntah setelah makan.
Pada keadaan normal, otot lambung berkontraksi untuk mendorong makanan ke saluran pencernaan berikutnya. Proses tersebut melibatkan saraf vagus yang membantu mengatur aktivitas pencernaan.
Namun, apabila saraf tersebut mengalami kerusakan akibat diabetes, gerakan otot lambung dapat terganggu sehingga pengosongan makanan berlangsung lebih lambat.
NIDDK menyebut diabetes sebagai salah satu penyebab utama gastroparesis yang diketahui.
Gangguan ini juga dapat menyulitkan pengaturan gula darah. Pasalnya, makanan yang lebih lambat masuk ke usus membuat waktu penyerapan glukosa menjadi sulit diperkirakan.
Meski demikian, keluhan seperti mual dan cepat kenyang tidak selalu menandakan gastroparesis. Beberapa jenis obat diabetes, termasuk obat berbasis GLP-1, juga dapat memperlambat proses pengosongan lambung.
Pentingnya Mengendalikan Gula Darah
Berbagai komplikasi tersebut menunjukkan bahwa diabetes bukan sekadar persoalan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini dapat memengaruhi banyak sistem tubuh apabila tidak dikelola secara tepat.
Menjaga kadar gula darah tetap terkendali, menerapkan pola makan seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, serta memeriksa kesehatan secara berkala merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko komplikasi.
Penderita diabetes juga sebaiknya tidak menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksakan kesehatan mata, ginjal, jantung, dan bagian tubuh lainnya. Deteksi dini dapat membantu menemukan gangguan lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan sesuai kebutuhan. (Dta)






