Jambi, Pribhumi.com — Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran ibadah, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran berharga bagi manusia. Salah satu tokoh yang disebutkan adalah Dzulqarnain, sosok pemimpin saleh yang dikenal kuat, adil, dan bijaksana.
Kisah Dzulqarnain diabadikan dalam Surah Al-Kahfi ayat 83–101. Ayat-ayat tersebut turun sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh kaum Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara kaum Quraisy. Pertanyaan itu bertujuan menguji kenabian Rasulullah, salah satunya tentang seorang pengembara yang menjelajahi wilayah Timur dan Barat.
Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci identitas Dzulqarnain. Para ulama tafsir memiliki beragam pandangan terkait sosoknya. Sebagian berpendapat ia adalah seorang raja besar, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Alexander Agung atau penguasa dari Yaman. Namun, pendapat yang lebih kuat menyebutkan bahwa Dzulqarnain adalah seorang raja dari Persia yang dikenal adil dan beriman.
Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, para ulama sepakat bahwa Dzulqarnain adalah seorang hamba saleh yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Ia dikenal sebagai pemimpin yang menyeru umatnya kepada kebaikan, meski menghadapi penolakan dan perlakuan kasar dari kaumnya.
Dalam perjalanannya, Dzulqarnain menjelajahi berbagai wilayah bumi. Ketika tiba di bagian barat, ia bertemu dengan suatu kaum dan dihadapkan pada pilihan untuk menghukum atau memperlakukan mereka dengan baik. Dengan kebijaksanaannya, ia menetapkan bahwa orang-orang yang berbuat zalim akan mendapatkan hukuman, sementara mereka yang beriman dan berbuat baik akan memperoleh balasan kebaikan.
Perjalanan Dzulqarnain berlanjut hingga ke suatu wilayah yang disebut antara dua gunung. Di sana, ia menemukan masyarakat yang hidup dalam ketakutan akibat ancaman Ya’juj dan Ma’juj, kelompok yang dikenal sering membuat kerusakan. Atas permintaan penduduk setempat, Dzulqarnain kemudian membangun sebuah dinding kokoh sebagai penghalang.
Dengan ilmu dan kemampuan yang dianugerahkan Allah, ia membangun tembok dari besi yang dipanaskan hingga sangat kuat. Tembok tersebut menjadi benteng yang melindungi masyarakat dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj.
Meski berhasil membangun proyek besar, Dzulqarnain tetap menunjukkan kerendahan hati. Ia menolak imbalan dari masyarakat dan menyadari bahwa segala kekuatan serta kemampuan yang dimilikinya berasal dari Allah semata. Ia juga mengingatkan bahwa semua yang ada di dunia ini pada akhirnya akan hancur sesuai kehendak-Nya.
Kisah Dzulqarnain menjadi teladan tentang kepemimpinan yang adil, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta sikap rendah hati dalam menghadapi kekuasaan dan keberhasilan.






