Mengenal Hakikat Mandi Balimau dalam Tradisi Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 6 November 2026 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi, S.AP., DPT

KERINCI, PRIBHUMI.COM – Tradisi Mandi Balimau merupakan salah satu warisan adat yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam di tengah masyarakat Tigo Luhah Semurup, Kerinci. Tradisi ini bukan sekadar ritual mandi menggunakan air limau atau jeruk, melainkan mengandung makna filosofis dan pesan moral yang mendalam tentang pentingnya membersihkan diri, baik secara zahir maupun bathin.

Dalam pelaksanaannya, Mandi Balimau dilakukan secara bersama-sama, khususnya pada rangkaian acara Kenduri Sko. Tradisi ini menjadi momentum bagi masyarakat Tigo Luhah Semurup untuk kembali memahami hakikat kebersihan diri sekaligus mempererat hubungan persaudaraan sesama anak keturunan.

Adapun makna ataupun hakikat dari Mandi Balimau yang dilakukan secara massal pada acara Kenduri Sko di Tigo Luhah Semurup ialah, selain air limau atau jeruk dapat digunakan untuk membersihkan dan mensucikan zahir, jangan pula dilupakan bahwa bathin juga mesti disucikan.

Jika zahir dibersihkan dengan limau, maka cara membersihkan bathin adalah dengan menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri, seperti iri, dengki, khianat, takabur, dan sombong.

Itulah hakikat dan esensi daripada Mandi Balimau. Dengan demikian, Mandi Balimau tidak semestinya dipahami hanya sebatas kegiatan membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga menjadi pengingat bagi setiap individu untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Baca Juga :  Chatra Borobudur Akan Dipasang dari Perunggu, Fadli Zon: Dorong Wisata Religi dan Sejarah

Semurup: Satu Keturunan, Satu Leluhur

Semurup memiliki makna satu keturunan seasal, satu Ninek atau satu leluhur yang sama. Seiring perjalanan waktu, keturunan atau anak cucu semakin banyak dan berkembang. Dalam perjalanan kehidupan bermasyarakat, tidak jarang muncul berbagai persoalan, perbedaan pandangan, bahkan silang selisih di antara sesama keturunan.

Oleh karena itu, melalui momentum Kenduri Sko dan pelaksanaan Mandi Balimau secara bersama-sama, khususnya masyarakat Tigo Luhah Semurup, diharapkan dapat kembali mensucikan zahir dan bathin.

Momentum ini bukan hanya menjadi bagian dari pelestarian tradisi leluhur, tetapi juga mengandung pesan agar setiap anak negeri mampu membersihkan hati, menghilangkan prasangka buruk, memperbaiki hubungan yang renggang, serta menjaga persatuan dan persaudaraan.

Sebab, sebuah tradisi adat akan kehilangan makna sejatinya apabila hanya dilaksanakan secara seremonial tanpa memahami nilai dan hakikat yang terkandung di dalamnya.

Jika dalam Mandi Balimau kita tidak memahami hakikatnya, maka sia-sialah tradisi adat itu dijalankan. Bahkan, tradisi yang seharusnya menjadi sarana pembinaan diri dan pemersatu masyarakat dapat kehilangan makna sejatinya.

Baca Juga :  Surabaya Berlakukan Denda Rp50 Juta bagi Warga yang Dirikan Tenda Hajatan Tanpa Izin di Jalan Umum

Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah

Dalam kehidupan masyarakat Tigo Luhah Semurup, adat tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai agama.
“Syarak mungato Adat memakai”

Adat menjadi pedoman kehidupan sosial yang harus senantiasa berjalan seiring dengan tuntunan syariat Islam.

Sebagaimana falsafah yang menjadi pegangan:

Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, ico pakai bersendi kepado sunnah Nabi.

Benar kato dalam adat, sah kato dalam syarak, betul kato dalam ico pakai.

Falsafah tersebut menegaskan bahwa adat bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan memiliki landasan nilai dan tuntunan yang harus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, Mandi Balimau dalam tradisi Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup mengajarkan bahwa membersihkan diri bukan hanya tentang menghilangkan kotoran yang melekat pada tubuh, tetapi juga membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.

Sebab, kemuliaan sebuah tradisi tidak hanya terletak pada bagaimana ia dilaksanakan, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

Mandi Balimau membersihkan zahir dengan limau, mensucikan bathin dengan memperbaiki diri (islah diri).

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 11:40 WIB

Mengenal Hakikat Mandi Balimau dalam Tradisi Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Karet Pintu Kulkas Tidak Merekat? Ini 4 Cara Mengatasinya Agar Tetap Dingin

Kamis, 5 Nov 2026 - 00:25 WIB