Harga BBM Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com — Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah berdampak pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai menekan pengeluaran dan mengurangi pembelian kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan laporan CNN, Minggu (17/5/2026), harga rata-rata bensin di Amerika Serikat pada awal Mei mencapai US$4,30 per galon atau sekitar Rp74 ribu untuk 3,78 liter. Jika dihitung per liter, harga bensin berada di kisaran Rp19 ribu lebih.

Kenaikan harga energi itu disebut menjadi salah satu penyebab utama melemahnya daya beli masyarakat. Banyak warga memilih mengurangi belanja kebutuhan rumah tangga demi memenuhi biaya bahan bakar kendaraan mereka.

Baca Juga :  Pelaku pembunuhan "Agus Kurnia" Dijatuhi 15 Tahun Penjara

Data Departemen Perdagangan Amerika Serikat menunjukkan penjualan ritel pada April 2026 hanya tumbuh 0,5 persen. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan pertumbuhan 1,6 persen pada Maret 2026.

Beberapa sektor bahkan mengalami penurunan penjualan. Toko furnitur tercatat turun 2 persen, dealer mobil turun 0,5 persen, toko serba ada untuk kebutuhan harian turun 3,2 persen, sementara penjualan pakaian merosot 1,5 persen.

Di sisi lain, penjualan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) memang masih meningkat 2,8 persen pada April. Namun, kenaikan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Maret yang sempat mencapai 13,7 persen.

Baca Juga :  Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Usai WHO Tetapkan Ebola Darurat Kesehatan Global

Sejumlah survei juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat Amerika terhadap kondisi ekonomi akibat melonjaknya harga BBM. Konsumen mulai merasa terbebani dengan biaya kebutuhan sehari-hari yang semakin tinggi.

Survei terbaru dari Universitas Michigan menunjukkan banyak warga Amerika memprediksi kondisi ekonomi negara mereka akan melemah karena konsumsi masyarakat terus menurun. Penurunan konsumsi itu dipicu oleh meningkatnya pengeluaran untuk energi dan kebutuhan pokok lainnya.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap perlambatan ekonomi di Amerika Serikat apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan harga energi dunia tetap tinggi.

 

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Pemerintah Kucurkan Rp10 Triliun ke BPJS Kesehatan, Pembayaran Klaim RS Dikebut
The Sacred Riana Ukir Sejarah, Jadi Pesulap Indonesia Pertama Raih Penghargaan Les Mandrakes d’Or
Sambal Khas Kerinci Mendunia ditangan PitriaNova
Dangdut Ditargetkan Diakui UNESCO pada 2027, Kementerian Kebudayaan Mulai Kampanye
Pre-order iPhone Duo Ludes dalam Hitungan Menit, Pengiriman Mundur hingga Januari 2027
AFC Pastikan Piala Asia 2027 Tetap Digelar di Arab Saudi
Kabut Asap Selimuti Singapura, Distribusi Masker N95 Gratis Jadi Sorotan
Banjir Bandang dan Longsor di Perbatasan Nepal-Tibet, Korban Tewas Tembus 150 Orang

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Pemerintah Kucurkan Rp10 Triliun ke BPJS Kesehatan, Pembayaran Klaim RS Dikebut

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:47 WIB

The Sacred Riana Ukir Sejarah, Jadi Pesulap Indonesia Pertama Raih Penghargaan Les Mandrakes d’Or

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Sambal Khas Kerinci Mendunia ditangan PitriaNova

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Dangdut Ditargetkan Diakui UNESCO pada 2027, Kementerian Kebudayaan Mulai Kampanye

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:30 WIB

Pre-order iPhone Duo Ludes dalam Hitungan Menit, Pengiriman Mundur hingga Januari 2027

Berita Terbaru