Jambi, Pribhumi.com — Kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah selama ini dikenal sebagai salah satu peristiwa besar dalam kitab suci. Namun, sejumlah ilmuwan kini mencoba melihatnya dari sudut pandang ilmiah dengan mencari kemungkinan penjelasan rasional di balik peristiwa yang diperkirakan terjadi sekitar 3.500 tahun lalu tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa fenomena alam bisa saja berperan besar dalam kejadian itu. Para ahli mengaitkannya dengan kombinasi kondisi cuaca ekstrem dan karakteristik geografis wilayah setempat.
Melalui simulasi komputer, ditemukan bahwa hembusan angin kencang dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam dari arah tertentu dapat mendorong air laut menjauh, sehingga membuka jalur daratan selebar beberapa kilometer di wilayah perairan dangkal. Ketika angin berhenti, air laut akan kembali dengan cepat dan berpotensi menimbulkan gelombang besar yang berbahaya.
Oseanografer Carl Drews dari National Center for Atmospheric Research menyebut peristiwa ini sebagai hasil interaksi alami antara kekuatan alam dan waktu yang tepat.
Dalam kisah yang tercatat di Alkitab, Nabi Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir setelah serangkaian bencana menimpa negeri tersebut. Mereka kemudian terjebak di antara kejaran pasukan Firaun dan hamparan laut luas. Dalam kondisi itu, Musa diyakini mengulurkan tangan hingga laut terbelah dan membuka jalan bagi kaumnya untuk menyeberang.
Selama ini, banyak yang meyakini lokasi peristiwa tersebut berada di Teluk Aqaba, bagian terdalam dan terluas dari Laut Merah. Namun, penelitian modern justru menunjukkan kemungkinan lain, yaitu di Teluk Suez yang memiliki kedalaman lebih dangkal dan dasar laut yang relatif rata.
Kondisi ini dinilai lebih memungkinkan untuk terjadinya fenomena surut ekstrem yang membuka jalur penyeberangan. Bahkan dalam sejarah, Napoleon Bonaparte pernah mengalami peristiwa serupa saat menyeberangi wilayah tersebut ketika air surut, sebelum hampir tersapu gelombang pasang yang datang tiba-tiba.
Ahli kelautan Dr. Bruce Parker mengungkapkan bahwa Nabi Musa kemungkinan memiliki pengetahuan tentang pola pasang surut air laut. Dengan memahami pergerakan bulan dan tanda-tanda alam, ia diduga mampu menentukan waktu terbaik untuk menyeberang.
Sebaliknya, pasukan Firaun yang tidak terbiasa dengan fenomena pasang surut diduga tidak menyadari bahaya yang mengintai. Ketika air kembali naik dengan cepat, mereka pun terjebak dan tersapu arus.
Sementara itu, Profesor Nathan Paldor dari Hebrew University of Jerusalem menjelaskan bahwa angin kuat yang bertiup selama berjam-jam dapat mendorong air laut menjauh hingga beberapa kilometer. Hal ini menyebabkan permukaan air turun beberapa meter dan membuka jalur daratan di dasar laut.
Meski berbagai penjelasan ilmiah terus dikaji, sebagian ilmuwan tetap melihat kisah ini sebagai peristiwa yang sarat makna spiritual. Carl Drews, misalnya, menyatakan bahwa sains dan iman tidak harus bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam memahami peristiwa bersejarah seperti ini.






