Jakarta, Pribumi.com– Pizza, sushi, kimchi, hingga dim sum merupakan hidangan yang dikenal luas di berbagai belahan dunia. Di balik popularitasnya, masing-masing makanan memiliki perjalanan sejarah yang menarik, mulai dari hidangan sederhana hingga menjadi bagian penting dari identitas budaya suatu bangsa.
Beberapa kuliner lahir dari kebiasaan masyarakat setempat, sementara lainnya berkembang seiring perubahan sosial, perdagangan, dan pengaruh pemerintah. Pad thai dari Thailand, misalnya, semakin populer ketika makanan berbahan mi didorong sebagai bagian dari identitas nasional
Kini, hidangan-hidangan tersebut tidak hanya dinikmati di negara asalnya, tetapi juga telah beradaptasi dengan selera masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Berikut lima makanan populer dunia beserta sejarah dan perkembangannya.
1. Pad Thai, Mi Goreng yang Menjadi Ikon Thailand
Pad thai merupakan salah satu hidangan khas Thailand yang terkenal dengan perpaduan rasa manis, asam, gurih, dan sedikit asin. Makanan berbahan dasar mi beras ini biasanya disajikan bersama telur, tahu, udang atau bahan protein lainnya, tauge, serta kacang tanah yang ditumbuk.
Meski kini identik dengan kuliner tradisional Thailand, pad thai dalam bentuk yang dikenal sekarang mulai memperoleh popularitas pada abad ke-20, terutama sekitar 1930-an. Pada masa tersebut, pemerintah Thailand mendorong konsumsi hidangan berbahan mi sebagai bagian dari upaya membangun identitas nasional dan mempromosikan makanan lokal.
Mi yang mudah diolah dan dapat dipadukan dengan berbagai bahan menjadikan pad thai pilihan praktis bagi masyarakat. Hidangan ini kemudian berkembang menjadi salah satu menu andalan pedagang kaki lima di Thailand.
Popularitas pad thai terus meningkat hingga menjadi salah satu makanan Thailand yang paling mudah ditemukan di restoran internasional.
2. Pizza, Hidangan Sederhana dari Naples yang Mendunia
Pizza berasal dari Naples, Italia, dan memiliki kaitan erat dengan tradisi makanan masyarakat perkotaan. Pada awal perkembangannya, roti pipih dengan berbagai tambahan bahan menjadi pilihan makanan yang praktis dan relatif terjangkau bagi kalangan pekerja.
Penggunaan tomat, yang diperkenalkan ke Eropa dari Benua Amerika, turut membentuk karakter pizza yang dikenal saat ini. Kombinasi adonan roti, saus tomat, keju, dan bahan pelengkap lainnya kemudian melahirkan beragam variasi.
Salah satu jenis pizza yang terkenal adalah Margherita. Hidangan ini secara luas dikaitkan dengan kisah Ratu Margherita dari Italia pada akhir abad ke-19. Namun, sejumlah rincian dalam kisah tersebut masih menjadi bahan pembahasan sejarah kuliner.
Ketika masyarakat Italia bermigrasi ke berbagai negara, pizza ikut menyebar dan menyesuaikan diri dengan selera lokal. Di Amerika Serikat, misalnya, muncul pizza bergaya New York dengan adonan relatif tipis serta pizza deep-dish khas Chicago yang memiliki lapisan adonan lebih tebal.
Saat ini, pizza menjadi salah satu makanan internasional yang tersedia dalam beragam bentuk, ukuran, dan pilihan topping.
3. Sushi, Evolusi Teknik Pengawetan Ikan Jepang
Sushi dikenal sebagai kuliner Jepang yang memadukan nasi berbumbu cuka dengan berbagai bahan pelengkap, seperti ikan, makanan laut, telur, dan sayuran. Meski sering dianggap sebagai makanan berbahan ikan mentah, tidak semua jenis sushi menggunakan ikan mentah.
Akar sejarah sushi berkaitan dengan teknik pengawetan ikan menggunakan nasi yang telah berkembang di sejumlah wilayah Asia. Dalam perkembangannya di Jepang, cara penyajian sushi mengalami perubahan hingga menghasilkan bentuk yang lebih praktis.
Salah satu jenis yang populer adalah nigiri sushi, berupa nasi yang dibentuk dengan tangan dan diberi irisan ikan atau bahan lain di bagian atasnya. Bentuk ini berkembang di Edo, nama lama Tokyo, pada awal abad ke-19.
Pada masa itu, nigiri sushi dikenal sebagai makanan yang praktis untuk dinikmati tanpa proses penyajian yang rumit. Seiring waktu, sushi berkembang menjadi kuliner yang menonjolkan kesegaran bahan, keterampilan pengolahan, dan keseimbangan rasa.
Kini, sushi dapat ditemukan di berbagai negara dengan beragam kreasi, mulai dari bentuk tradisional Jepang hingga varian modern yang disesuaikan dengan selera konsumen setempat.
4. Kimchi, Fermentasi Sayuran yang Melekat pada Budaya Korea
Kimchi merupakan hidangan fermentasi khas Korea yang umumnya dibuat dari sawi putih, lobak, atau sayuran lainnya. Bahan-bahan tersebut diolah bersama garam dan berbagai bumbu, seperti bawang putih, jahe, serta cabai pada sejumlah jenis kimchi.
Tradisi mengawetkan sayuran berkembang sebagai cara masyarakat Korea menyimpan bahan pangan agar dapat dikonsumsi dalam waktu lebih lama, terutama ketika musim dingin membatasi ketersediaan sayuran segar.
Kimchi pada masa awal tidak selalu memiliki warna merah dan rasa pedas seperti banyak jenis yang dikenal sekarang. Penggunaan cabai dalam kuliner Korea berkembang setelah tanaman tersebut diperkenalkan ke Asia dari Benua Amerika melalui jalur perdagangan.
Seiring waktu, kimchi menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat Korea. Variasinya pun beragam, bergantung pada jenis sayuran, bumbu, daerah, dan kebiasaan keluarga yang membuatnya.
Selain menjadi lauk pendamping, kimchi juga digunakan sebagai bahan berbagai hidangan, seperti sup, nasi goreng, dan pancake gurih. Makanan ini sekaligus menjadi simbol tradisi kuliner Korea yang diwariskan dari generasi ke generasi.
5. Dim Sum, Tradisi Kudapan yang Dinikmati Bersama Teh
Dim sum merupakan kumpulan hidangan kecil khas tradisi kuliner China, terutama yang erat kaitannya dengan budaya bersantap di wilayah Guangdong dan Hong Kong. Jenisnya sangat beragam, mulai dari pangsit kukus, bakpao, hingga kudapan yang digoreng atau dipanggang.
Perkembangan dim sum berkaitan dengan tradisi minum teh atau yum cha. Di kedai-kedai teh, pengunjung menikmati minuman sambil menyantap makanan berukuran kecil, terutama ketika beristirahat dalam perjalanan atau berkumpul bersama orang lain.
Seiring berkembangnya budaya bersantap tersebut, pilihan hidangan yang disajikan semakin beragam. Dim sum kemudian dikenal sebagai pengalaman kuliner yang tidak hanya menonjolkan cita rasa, tetapi juga kebersamaan.
Berbeda dari satu hidangan tunggal, dim sum mencakup berbagai makanan dengan teknik pengolahan, bentuk, dan isian yang berbeda. Penyajiannya sering menggunakan keranjang kukus atau piring kecil sehingga pengunjung dapat mencoba beberapa jenis sekaligus.
Hingga kini, tradisi menikmati dim sum bersama teh masih populer di berbagai restoran China dan menjadi salah satu kuliner yang digemari masyarakat internasional.
Kuliner Dunia, Cerminan Sejarah dan Budaya
Perjalanan pad thai, pizza, sushi, kimchi, dan dim sum memperlihatkan bahwa makanan populer tidak hanya terbentuk dari rasa, tetapi juga dari sejarah, kebiasaan masyarakat, serta perubahan zaman.
Dari makanan praktis untuk pekerja hingga tradisi bersantap bersama keluarga, setiap hidangan menyimpan cerita tentang masyarakat yang menciptakannya. Penyebaran kuliner ke berbagai negara juga menunjukkan bagaimana makanan dapat melintasi batas geografis dan beradaptasi tanpa sepenuhnya kehilangan identitas asalnya.
Tak heran jika lima hidangan tersebut tetap populer hingga sekarang, baik sebagai bagian dari tradisi lokal maupun sebagai sajian yang dinikmati masyarakat di berbagai penjuru dunia. (Hst)






